Tugas 1   Leave a comment

telivisi Sejarah TV di Indonesia

    Televisi (dikenal dengan sebutan TV) sebagai kotak ajaib, telah memberi    pengaruh (negatif dan positif) bagi kehidupan umat manusia. Televisi dengan kekuatannya menciptakan dunia yang tidak berjarak. Olehnya, dominasi wilayah dalam bidang politik menjadi tidak bermakna. Walaupun tidak berada di Amerika, melalui TV, siapapun bisa menyaksikan riuhnya suasana politik di sana tanpa ada yang bisa melarang. Melalui TV, pemirsa seperti memiliki ikatan kultural dan bersimpati dengan salah seorang calon presiden di Amerika, hanya karena yang bersangkutan pernah menetap di Indonesia.

      Televisi juga menjadi tutor yang andal dalam membentuk watak dan perilaku manusia. Pelajar usia dini yang tidak tahu cara berkelahi, karena sering melihat video rekaman tindak kekerasan di TV menjadi mahir ketika berkelahi dengan temannya. TV juga mampu menghipnotis kesadaran pemirsa sehingga terlupa dari kenyataan yang dialaminya. Itulah berbagai kekuatan yang TV miliki. Saat ini, TV menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia di dunia.

TV sebagai jendela informasi mulai dikembangkan ketika Indonesia menjadi tuan rumah penyelenggaraan Asian Games IV. Pembangunan stasiun TV berikut pemancarnya dilakukan untuk meliput kegiatan tersebut. Tanggal 25 Juli 1961 merupakan momen bersejarah bagi pertelevisian di Indonesia. Menteri Penerangan atas nama pemerintah mengeluarkan SK Menpen No. 20/SK/M/1961 tentang Pembentukan Panitia Persiapan Televisi (P2T). Inilah awal mula dari lahirnya TVRI di Indonesia.

Tanggal 17 Agustus 1962, TV negara yang kemudian bernama TVRI mulai mengudara untuk yang pertama kalinya. Siaran pertama kali ini diisi dengan siaran percobaan dari halaman Istana Merdeka Jakarta yang meliput acara HUT Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke-17. Pada 24 Agustus 1962, TVRI bersiaran secara resmi, berupa siaran langsung upacara pembukaan SEA Games IV dari stadion utama Gelora Bung Karno. TVRI kemudian disempurnakan badan hukumnya oleh negara dengan menerbitkan Keppres No. 215/1963 tentang Pembentukan Yayasan TVRI dengan Pimpinan Umum Presiden RI, tanggal 20 Oktober 1963.

Selanjutnya, Orde Baru bertekad menciptakan pembangunan ekonomi yang kuat dan kehidupan politik yang terkontrol. TVRI di bawah kekuasaan orde ini ditempatkan menjadi mikrofon penyampai aspirasi pemerintah. Acara yang ditayangkan TVRI harus disesuaikan dengan norma, kehendak, dan sistem nilai yang diproduksi rezim. Walaupun di permukaan kehidupan tampak tenang, di balik itu sesungguhnya rakyat merasa tertekan. Ketenangan yang tampak merupakan ketenangan yang dihasilkan dari teror. Seniman yang bisa muncul di layar TVRI hanya seniman yang berafiliasi secara politik dengan rezim.

Hadirnya Stasiun TV Swasta di Indonesia

Di akhir tahun ‘80an, ketika modernisasi yang diterapkan rezim mulai menampakkan hasil, di Indonesia mulai banyak anggota masyarakat yang terdidik, hal ini telah memunculkan lapisan baru di masyarakat Indonesia, yakni kelas menengah. Kelas ini mulai merasa jenuh dengan tayangan yang diproduksi TVRI yang menjadi kaki tangan rezim pemerintahan. Kelas ini mulai menuntut keberagaman isi penyiaran TV.

Pemerintah mengakomodasi keinginan publik yang disuarakan kelas menengah ini. Pada 28 Oktober 1987, pemerintah melalui Departemen Penerangan, memberikan izin prinsip kepada Rajawali Citra Televisi Indonesia (RCTI) untuk memulai siaran dengan No. 557/DIR/TV/1987. Stasiun televisi ini, pada awalnya hanya mendapat hak siaran melalui decoder yang disewakan, dan Departemen Penerangan membatasi pemirsanya sebatas wilayah Jakarta. Kemudian, kebijakan tersebut berubah, pada 1 Agustus 1990 dengan izin prinsip Dirjen RTF No. 1217D/RTF/K/VIII/1990, RCTI diperbolehkan mengudara tanpa decoder, meskipun wilayah siaran masih wilayah Jakarta dan sekitarnya. RCTI merupakan usaha bersama antara PT. Bimantara Citra milik Bambang Trihatmodjo (putra almarhum Presiden Soeharto), dengan PT. Rajawali Wirabhakti Utama milik pengusaha Peter Sondakh.

Lain halnya di Surabaya, tahun 1989, pemerintah memberi izin kepada Surya Citra Televisi (SCTV) untuk melakukan siaran, walaupun hanya terbatas di Kota Surabaya. Izin prinsip kepada SCTV diberikan Departemen Penerangan & Dirjen RTF dengan No. 415/RTF/IX/1989. Saham SCTV dimiliki oleh Sudwikatmono (pengusaha & adik tiri almarhum Presiden Soeharto), Halimah Trihatmodjo (menantu Soeharto), dan pengusaha Henry Pribadi.

Stasiun TV selanjutnya, mengudara secara nasional atas izin pemerintah, yaitu Televisi Pendidikan Indonesia (TPI), pada 1 Agustus 1990. Izin prinsipnya dikeluarkan Departemen Penerangan & Dirjen RTF dengan No. 1271B/RTF/K/VIII/1990. TPI diperbolehkan siaran secara nasional, dengan menggunakan antena transmisi dan fasilitas yang dimiliki TVRI di daerah. TPI berhasil memperoleh izin siaran nasional, karena memiliki misi pendidikan yang akan diusung dalam penyiarannya, hal ini dianggap dapat membantu Departemen Pendidikan dan Kebudayaan untuk menyebarluaskan program pendidikan, khususnya untuk wilayah pedalaman. Pada prakteknya, hanya 33% program pendidikan yang disiarkan, sehingga TPI mengubah misi dan logonya menjadi Televisi Keluarga Indonesia.

Di Lampung, Anteve (ANTV) ikut meramaikan siaran TV Indonesia sejak diberikan izin prinsip No. 2071/RTF/K/1991 pada 17 September 1991. Kemudian, pada 30 Januari 1993, dengan izin prinsip Departemen Penerangan & Dirjen RTF No. 207RTF/K/I/1993, ANTV juga melakukan siaran dengan skala nasional. Sementara itu, Indosiar mengudara dengan izin prinsip dari Departemen Penerangan & Dirjen RTF dengan No. 208/RTF/K/I/1993, sebagai penyesuaian atas izin prinsip pendirian No. 1340/RTF/K/VI/1992, tanggal 19 Juni 1992. Dengan siaran secara optimal sejak 11 Januari 1995.Sehingga pada 1992, ada lima TV yang memiliki izin siaran secara nasional. Puncaknya, pada 1998 pemerintah melalui Keputusan Menteri Penerangan No. 384/SK/Menpen/1998 mengizinkan berdirinya lima stasiun TV swasta baru, yakni Metro TV, Lativi, TV7, Trans TV, dan Global TV.

Posted 17 March 2012 by ANGELZONE

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: